Sabtu, 24 November 2012

MUSIM ULAT JATI DI DS. KROCOK



DESA KROCOK PENYUMBANG KEPOMPONG ULAT JATI DI BLORA
Kondisi geografis kabupaten Blora adalah bertanah kapur. Tanaman yang cocok untuk keadaan ini adalah pohon jati. Pada musim hujan, ketika daun jati bersemi, banyak ulat yang memakan habis daun-daunnya. Namun warga sekitar hutan justru mensyukuri hama ini karena dapat dimakan. Ulat ini berwarna coklat muda sampai hitam.Blora yang terkenal dengan hutan jatinya, setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan atau laboh, warga di sekitar hutan mengalami panen ungker atau enthung (kepompong dari ulat daun jati-Red).  Dibulan November-Desember seperti sekarang,kepompong ini demikian melimpah di daerah-daerah di mana pohon jati tumbuh dengan baik seperti di Tuban, Gunung Kidul, Bojonegoro, Rembang, Jepara dan Blora.



Namun Kali ini kami tidak akan membahas blora yang sangat luas sekali. Namun kali ini kami akan melihat di sekitar kami yang kebetulan desa Krocok, Kecamatan Japah, Kabupaten blora merupakan wilayanya yang di kelilingi hutan jati.
Fenomena musim yang terjadi di setiap musim pancaraba yaitu menjelang  musim penghujan. Saat ini curah hujan memang tidak begitu besar. Sehingga di sukai beberapa ulat, terutama ulat daun pohon jati.



Ketika masih dalam bentuk ulat, dia akan memakan habis daun jati hingga tersisa kerangkanya saja. Begitu tiba waktunya untuk bermetamorfosa jadi kepompong, ulat ini akan turun dari atas pohon ke tanah. Caranya dengan terjun menggunakan air liurnya yang membentuk sulur. Mirip yang dilakukan oleh binatang laba-laba atau spiderman.



Sesampai di tanah, dia akan mencari tempat tersembunyi. Biasanya di balik daun atau batu. Di situ, dia membungkus dirinya dengan air liur dan butiran tanah, kemudian bertapa untuk berubah bentuk menjadi kepompong. Warnanya coklat tua dan permukaannya licin. Nah kepompong inilah yang enak dimakan. Musim ungker seperti ini bagi warga di sekitar hutan memang merupakan berkah tersendiri, karena penduduk desa Krocok  akan mendapat penghasilan tambahan.
“Pados ungker ngeten niki abot, kedah betah gatel lan dicokot jengklong. (Mencari ungker seperi ini berat, harus tahan gatal dan digigit nyamuk-Red),” tutur selvi, pencari ungker di hutan desa krocok Penuturan warga desa krocok yang mengaku untuk mencari ungker, kita harus masuk ke hutan dan berjam-jam membolak-balik daun jati kering karena ungker banyak terdapat di balik daun jati yang sudah jatuh.

Cara memasaknya cukup sederhana. Kempompong atau masyarakat setempat menyebutnya UNGKER ini dicuci bersih. Setelah itu ada yang mengukusnya lebih dulu, tapi ada yang langsung menggoreng dengan bumbu bawang putih dan garam. Tapi awas, kalau punya alergi,musti agak hati-hati, makanan ini bisa menimbulkan gatal-gatal di sekujur badan.



Setiap bulan November-Desember ada satu fenomena unik yang muncul di hutan jati. Segerombol masyarakat terlihat sedang memungut sesuatu dari lantai hutan. Coba tebak, apa yang mereka pungut ?.. Bukan buah jati atau jamur, tetapi “ungker” ulat jati. .kandungan proteinnya tinggi, akan tetapi lebih rendah dari kandungan protein belalang kayu. Kepompong ini ukurannya 1-2 cm, karena ulatnya berukuran kecil. Harga ungker pada musim ini adalah Rp. 20.000-30.000/kg dan permintaan dari masyarakat sangat tinggi. Mungkin bagi mereka yang tidak biasa memakan ungker, ketika memakannya akan merasa geli agak jijik juga barangkali….
Ungker merupakan kepompong dari jenis ulat jati Hyblaea puera. Ciri-ciri fisik enthung jati (kepompong) ini adalah warna coklat sampai coklat tua kehitam-hitaman, panjang rata-rata 1,4 –1,9 cm, berat rata-rata 0,7-1,3 mg. Ulat jati menyerang pada awal musim penghujan, menyerang pohon-pohon jati yang baru saja memunculkan daun-daun hijau setelah menggugurkan daun ketika musim kemarau.
Ulat dan kupunya dapat dijumpai dalam jumlah sangat besar pada 4 – 6 minggu pertama di musim hujan. Oleh karenanya tidak heran pada masa itulah masyarakat memanen ungker dari lantai hutan, karena kepompong ulat jati ini letaknya di lantai hutan dibalik serasah daun jati. Ulat Hyblaea puera muda memakan daun yang lunak dengan meninggalkan urat-urat dan tulang-tulangnya. Ulat dewasa memakan seluruh jaringan daun kecuali tulang-tulang daun yang besar. Ulat makan pada malam hari.

Pengaruh serangan ulat jati pada pertanaman jati secara umum adalah menurunkan potensi riap pohon, dan dalam kondisi khusus dapat meningkatkan resiko kematian pohon jati muda. Daun tanaman berfungsi dalam proses fotosintesis yang hasilnya digunakan untuk pertumbuhan. Daun-daun yang dimakan ulat adalah daun-daun produksi pertama setelah sebelumnya tanaman meranggas. Dengan adanya serangan ulat maka periode efektif fotosintesa pohon menjadi berkurang, dengan demikian periode efektif untuk pertumbuhan (penambahan tinggi dan diameter) menjadi semakin pendek.
 Akibat serangan hama ulat jati dalam kondisi khusus dapat meningkatkan resiko kematian tanaman jati muda (tanaman 1 – 3 tahun) di lapangan. Hal tersebut bilamana sebelum serangan ulat jati didahului oleh periode musim kemarau yang panjang. Pada jati muda, daun-daun yang tumbuh pada awal musim hujan dapat merupakan hasil cadangan energi terakhir untuk mempertahankan hidup setelah melalui masa kemarau panjang. Jika daun-daun tersebut kemudian diserang habis oleh ulat maka tanaman sudah tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidup lagi; sehingga setelah serangan ulat jati berakhir, maka tanaman jati muda juga tidak dapat menumbuhkan daun lagi (mati).




Tapi justru ulat yang dianggap hama pengganggu ini menjadi berkah bagi masyarakat sekitar hutan jati.Di bulan November-Desember seperti sekarang ini,melimpahnya kepompong ulat jati menjadi sumber tambahan gizi dan ekonomi keluarga.
Jangan lewatkan ketika ke daerah Blora pada bulan November- Desember untuk mencicipi ungker goreng. Mau............ ha......ha...... ha......














  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar